FENOMENA HOAX



FENOMENA HOAX

Baru-baru ini, hoax kerap diperbincangkan di media massa maupun media sosial, karena dianggap meresahkan publik dengan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Lantas apa itu hoax dan darimana asalnya? Serta hoax apa yang pernah terjadi di dunia selama ini? Berikut penjelasannya.

Di masyarakat hoax bisa diartikan dengan banyak kata meskipun artinya tetap sama. Yaitu tipuan, menipu, kabar burung, berita bohong, pemberitaan palsu, informasi palsu daan masih banyak lagi.

Menurut wikipedia hoax atau pemberitaan palsu adalah usaha untuk meipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. Suatu pemberitaan palsu berbeda dengan misalnya pertunjukan sulap dalam pemberitaan palsu, pendengar/penonton tidak sadar sedang dibohongi, sedangkan pada suatu pertunjukan sulap, penonton justru mengharapkan supaya ditipu.

Menurut Lynda Walsh dalam buku berjudul “Sins Against Science”, istilah hoax atau kabar bohong, merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang masuk sejak era industri. Diperkirakan pertama kali muncul pada 1808.

Seperti dilansir sebuah koran asal kata 'hoax' diyakini ada sejak ratusan tahun sebelumnya, yakni 'hocus' dari mantra 'hocus pocus'. Frasa yang kerap disebut oleh pesulap, serupa 'sim salabim'.

Alexander Boese dalam bukunya “Museum of Hoaxes”, mencatat hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak atau penanggalan palsu yang dibuat Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709.

Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John Partridge. Agar meyakinkan publik, ia bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya.

Swift mengarang informasi tersebut untuk mempermalukan Partridge di mata publik. Partridge pun berhenti membuat almanak astrologi hingga enam tahun setelah hoax beredar.

Penyair aliran romantik Amerika Serikat, Edgar Allan Poe, pun diduga pernah membuat enam hoax sepanjang hidupnya, seperti informasi dari hoaxes.org yang dikelola Boese.

Poe, sekitar 1829-1831, menulis di koran lokal, Baltimore, akan ada orang yang meloncat dari Phoenix Shot Tower pada pagi hari 1 April. Orang itu ingin mencoba mesin terbang buatannya, dan akan melayang ke Lazaretto Point Lighthouse yang berjarak 2,5 mil.

Saat itu, Phoenix Shot Tower yang baru dibangun, merupakan bangunan tertinggi di AS. Berita orang terbang di gedung tertinggi itu menarik banyak peminat, hingga orang-orang berkumpul di bawah gedung untuk menyaksikannya.

Tapi, yang ditunggu-tunggu tak kunjung hadir. Kerumunan orang kesal dan bubar begitu menyadari hari itu 1 April. Poe lalu meminta maaf di koran sore, menyatakan orang itu tak bisa hadir karena salah satu sayapnya basah.

Salah satu hoax yang sering beredar adalah ancaman asteroid menghantam bumi hingga menyebabkan kiamat. NASA, pada 2015, membantah rumor asteroid jatuh dan mengakibatkan kerusakan besar di bumi.

Menurut mereka, asteroid yang berpotensi berbahaya memiliki 0,01 persen berdampak pada bumi selama 100 tahun ke depan.

"Kalau ada objek besar yang akan merusak pada September, tentu kami sudah bertindak sekarang," kata Manajer Objek Dekat Bumi NASA Paul Chodas, pada Agustus 2015.

Bagaimana fenomena hoax menyebar? Berikut penjelasannya.

Direktur Institute of Cultural Capital di University of Liverpool Simeon Yates, dalam tulisannya yang dimuat di world.edu, Fake News-Why People Believe It and What Can Be Done to Counter It, menyebutkan ada fenomena bubbles atau gelembung dalam penggunaan media sosial atau medsos.

Pengguna medsos cenderung berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri. Dikaji dari studi kelas sosial, gelembung medsos tersebut mencerminkan gelembung 'offline' sehari-hari.

Kelompok tersebut kembali ke model lama, juga bertumpu pada opini pemimpin mereka yang memiliki pengaruh di jejaring sosial. Kabar bohong yang beredar di medsos, menjadi besar ketika diambil oleh situs atau pihak terkemuka yang memiliki banyak pengikut.

Kecepatan dan sifat medsos yang mudah dibagikan (shareability), berperan dalam penyebaran berita. Sebagaimana ditekankan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, menjadi sulit membedakan mana yang palsu dari fakta, dan sudah banyak bukti serta butuh perjuangan untuk menghadapi ini.

Media digital juga membuat lebih sulit untuk membedakan kebenaran konten. Berita online lebih sulit untuk dibedakan.

Masalah berikutnya adalah bahwa mencabut 'berita palsu' di medsos saat ini kurang didukung teknologi. Meskipun tulisan dapat dihapus, ini adalah tindakan pasif, kurang bermakna daripada pencabutan satu paragraf di surat kabar.

Agar memberi dampak, yang diperlukan tidak hanya menghapus posting-an, tetapi menyoroti dan mengharuskan pengguna untuk melihat dan menyadari bahwa berita yang dimaksud sebagai 'berita palsu'.

Jadi apakah berita palsu adalah manifestasi dari masa media digital dan sosial? Tampaknya mungkin medsos dapat memperkuat penyebaran informasi yang salah.

Ini bukan 'persyaratan' teknologi, tapi pilihan--oleh desainer sistem dan regulator mereka (di mana mereka berada). Dan media mainstream mungkin telah mencoreng reputasi mereka sendiri melalui liputan berita 'palsu', membuka pintu ke sumber berita lainnya.

Contoh berita hoax yang dilansir dari koran SINDO serta mencoba mengungkap fenomena hoax yang terbit pada Senin, 28 November 2016.

Kabar itu merayap di dunia maya sejak Jumat siang dua pekan lalu. Bermula dari media sosial Facebook, dua foto pecahan uang Rp 100.000 diunggah dengan pernyataan, 'Palu arit di uang kertas 100 ribu baru'.

Palu arit adalah ikon Partai Komunis Indonesia, organisasi terlarang di Indonesia. Kontan, kehebohan pun menyeruak. Posting itu terus merambat hingga memasuki ruang maya lainnya, seperti Twitter dan bahkan dikutip sejumlah situs berita.

Cuitan @.estiningsihdwi disebar 195 kali dan disukai 73 pengguna lain.

Bantahan Bank Indonesia datang dua hari kemudian. Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Arbonas Hutabarat, membantah penafsiran versi 'palu arit'. Apa yang dilihat sebagian orang sebagai 'palu arit', menurut Arbonas, adalah logo 'BI' yang dicetak secara Rectoverso atau teknik cetak khusus yang membuat gambar berada di posisi yang sama dan saling membelakangi.

'Apabila dilihat tanpa diterawang, gambar akan terlihat seperti ornamen yang tidak beraturan. Namun apabila diterawang, Rectoverso akan membentuk sebuah gambar yang utuh,' kata Arbonas. Bank Indonesia menggunakan teknik cetak itu sebagai unsur pengaman uang untuk menghindari pemalsuan.

Arus kabar bohong atau hoax seperti isu 'palu arit' tersebut semakin deras menjelang hingga setelah demonstrasi besar 4 November. Salah satunya adalah berita tentang dukungan Pemerintah Turki kepada demonstrasi yang sering disebut 411 itu.

Dapat disimpulkan bahwa berita hoax sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan hari ini pun berita hoax masih ada. Banyak cara yang dilakukan oleh penyebar hingga berita hoax ini terlihat seperti berita asli dan nyata terjadi. Hingga membuat beberapa pihak harus mengklarifikasi agar para pembaca/pendengar berita hoax tidak ikut tertipu atau percaya.
Pesan nyata dari masalah hoax adalah tanyakan pada diri sendiri, seberapa sering Anda memeriksa fakta cerita sebelum menyebarkannya?

0 komentar:

Posting Komentar

Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Siti Evi N All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates